Jika Nabi tidak pernah menyebut tasawuf... lalu
kenapa para ulama justru menjaganya selama
ratusan tahun?"14/3/2026
Banyak orang mengira tasawuf tidak diajarkan
Nabi. Padahal... Nabi justru mengajarkan inti tasawuf tanpa menyebut namanya.
Malam itu angin berhembus pelan di halaman
pesantren tua. Lampu temaram menggantung di serambi kayu. Seorang murid duduk gelisah di hadapan gurunya yang dikenal teduh dan dalam pandangannya.
Murid:
"Guru... bolehkah aku bertanya sesuatu yang
mengganjal di hatiku?"
Guru:
"Tanyakanlah. Hati yang bertanya adalah hati yang sedang mencari jalan pulang."
Murid:
"Aku sering mendengar orang berkata tentang
tasawuf. Tapi aku juga mendengar orang lain berkata bahwa Nabi tidak pernah mengajarkan tasawuf. Aku jadi bingung... apakah kita memang harus bertasawuf?"
Guru itu tersenyum tipis. la menatap langit malam
seakan membaca sesuatu yang tidak terlihat.
Guru:
"Anakku... memang benar Nabi tidak pernah
menyebut kata tasawuf."
Murid itu sedikit terkejut.
Murid:
"Jadi... benar begitu, Guru?"
Guru:
"Ya. Nabi tidak menyebut kata itu. Tetapi Nabi mengajarkan seluruh isi tasawuf dalam hidupnya."
Murid terdiam
Angin malam berhembus membawa suara daun
bergesekan seperti bisikan yang halus.
Murid:
"Aku belum mengerti, Guru.."
Guru menatap muridnya dengan lembut.
GUru:
"Coba kau ingat satu hadis yang sangat terkenal.
Ketika Malaikat Jibril datang kepada Nabi dan
bertanya tentang ihsan."
Guru berhenti sejenak.
Guru:
"Jibril bertanya, 'Apa itu ihsan?' Lalu Nabi
menjawab:
'Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau
melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.!"
Murid terdiam lama.
GUrU:
"Itulah tasawuf, anakku."
Murid:
"Maksud Guru...?"
Guru:
"Ketika seseorang membersihkan hatinya dari riya, dari sombong, dari dengki... itu tasawuf!"
"Ketika seseorang beribadah bukan sekadar
menggugurkan kewajiban, tetapi karena cintanya kepada Allah... itu tasawuf."
“Ketika seseorang merasa Allah selalu melihatnya, bahkan saat ia sendirian... itu tasawuf."
Mata murid mulai berkaca-kaca.
Murid:
"Jadi... tasawuf bukan sesuatu yang baru?"
Guru menggeleng perlahan.
Guru:
"Tidak. Tasawuf hanyalah nama yang diberikan
ulama untuk menjelaskan perjalanan hati menuju
Allah."
"Pada zaman Nabi, orang tidak menyebutnya tasawuf... karena para sahabat sudah hidup dalam keadaan itu."
Guru menunjuk ke dada muridnya.
GUru:
"Masalah manusia hari ini bukan kurang ibadah.."
"Masalahnya adalah hati yang kering saat beribadah."
Murid menunduk.
Murid:
"Guru... sekarang aku mulai mengerti."
Guru tersenyum.
GUru:
"'Jika kau sholat tetapi hatimu hadir kepada Allah...
kau sedang berjalan di jalan tasawuf."
“Jika kau berzikir hingga hatimu lembut... kau
sedang berjalan di jalan tasawuf."
“Dan jika suatu hari kau merasakan Allah lebih
dekat daripada napasmu sendiri...!'
Guru berhenti sejenak.
Angin malam tiba-tiba terasa sangat hening.
Guru:
"Di situlah engkau akan memahami... bahwa
tasawuf bukan sekadar ilmu."
"Melainkan perjalanan pulang... dari hati manusia
menuju Tuhannya."dinukil dari kisah tasyawuf.(tim)
Tags
kisah nabi