Presiden Soekarno Usir Kolonial Belanda Pelarian Berjubah Yaman Dari Istana

PATI,SINARNUSANTARA.COM Sejarah mencatat sebuah rencana besar yang nyaris terlaksana, namun terhalang oleh tabir kemanusiaan yang barangkali terlalu naif. Presiden Soekarno, dengan ketajaman intuisinya terhadap kedaulatan bangsa, pernah mengutus orang kepercayaannya, Jenderal Ahmad Yani, untuk menemui para kiai Nahdlatul Ulama (NU).11/03/2026

 Misinya satu: meminta dukungan politik untuk mendeportasi massal para "imigran Yaman" dari klan Ba’alawi yang dianggap sebagai duri dalam daging bagi kemerdekaan Indonesia. Bung Karno melihat mereka bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai residu struktur kolonial yang membahayakan integrasi nasional. 

Sayangnya, para kiai NU saat itu memilih jalan perlindungan atas dasar kemanusiaan, sebuah keputusan yang kini menyisakan pertanyaan besar tentang masa depan kesetaraan di negeri ini.

Mengapa serangan politik ini begitu mendesak kala itu? Rekam jejak klan ini memang penuh dengan noda kolaborasi. Mari kita buka lembaran kelam di mana Sayyid Utsman bin Yahya, sang "Mufti Belanda" di Batavia, dengan bangga memuji Ratu Wilhelmina dan mengeluarkan fatwa haram bagi rakyat Banten yang berjihad melawan penjajah pada 1888. Belum lagi pengkhianatan

 Abdurrahman al-Zahir yang menjual perjuangan rakyat Aceh demi mendapatkan uang pensiun dan fasilitas dari pemerintah Hindia Belanda. Mereka adalah oportunis yang pandai berselancar di atas penderitaan pribumi, berlindung di balik jubah agama sementara kaki mereka berpijak pada kepentingan kolonial.

Kecongkakan mereka terus dipelihara hingga hari ini melalui doktrin "darah suci" atau keutamaan nasab yang rasis. Dengan mengaku-ngaku sebagai keturunan Nabi, klan ini menuntut privilese sosial yang menjijikkan, merasa lebih mulia dari penduduk asli, dan menciptakan stratifikasi sosial yang merusak semangat Pancasila. Doktrin ini bukan sekadar klaim agama, melainkan racun bagi stabilitas nasional karena membangun mentalitas "tuan dan budak" di tanah merdeka. Ironisnya, benteng terakhir mereka—yaitu silsilah—kini hancur lebur setelah riset ilmiah K.H. Imaduddin Utsman membongkar fakta bahwa nasab Ba’alawi ke Nabi Muhammad SAW adalah manipulasi sejarah yang tidak memiliki dasar valid dalam kitab-kitab sejarah sezaman. 

Mereka hanyalah penjual dongeng yang menggunakan identitas palsu untuk menundukkan mental umat Muslim Indonesia.

Bahkan dalam sejarah gerakan radikal, jejak mereka terendus kuat. Nama-nama seperti Muso Al Munawar dalam pemberontakan PKI Madiun 1948 hingga D.N. Aidit yang memimpin PKI pada 1965 disebut memiliki keterkaitan dengan klan ini, sebuah fakta sejarah yang sering kali coba dikubur dalam-dalam oleh organisasi seperti Rabithah Alawiyah demi menjaga citra suci mereka. Sudah saatnya kita berhenti terbuai oleh sorban dan gelar "Habib" yang ternyata menyimpan sejarah panjang pengkhianatan, kolaborasi dengan penjajah, dan kebohongan genealogis yang sistematis.jasmerah ini di nukil dari babat sejarah bangsa.

Membangukan diri anak bangsa agar tidak terlelap dalam buaian kurofat kaum penjajah berjubah pelarian yaman. (tim)
Previous Post Next Post

نموذج الاتصال